Wikipedia

Search results

Saturday, 1 October 2011

Hati-Hati...Radiasi Ponsel Bisa Berujung Kanker Otak













Badan Kesehatan Dunia WHO baru-baru ini mengingatkan bahaya radiasi dari ponsel yang diklasifikasikan sebagai "sangat mungkin berisiko kanker". Badan ini sebelumnya telah melakukan peninjauan dari efek gelombang elektromagnetik terhadap kesehatan manusia.

Deklarasi tersebut didasarkan pada bukti dalam penelitian atas mereka yang menggunakan ponsel secara intensif. Diketahui, intensitas tinggi pemakaian ponsel  mengakibatkan peningkatan risiko glioma, sebuah bentuk kanker otak ganas.

Kesimpulan yang diambil International Agency for Research on Cancer (IARC), badan di bawah WHO, berlaku untuk radiasi elektromagnetik frekuensi radio pada umumnya, meskipun sebagian besar penelitian di daerah ini berpusat pada telepon selular.

Temuan adalah puncak dari pertemuan IARC yang diikuti 31 ilmuwan dari 14 negara untuk mengkaji ratusan hasil penelitian sebelumnya yang telah dipublikasi tentang risiko kanker yang ditimbulkan oleh medan elektromagnetik.

Jonathan Samet, seorang ilmuwan di University of Southern California, yang memimpin grup itu menyatakan, "Mungkin ada beberapa risiko, dan oleh karena itu kita harus tetap mencermati hubungan antara ponsel dan kanker."

Dalam menunjuk bidang frekuensi radio sebagai "mungkin karsinogenik", WHO telah menempatkan mereka setara dengan sekitar 240 agen lain yang merugikan, termasuk medan magnet tingkat rendah, bedak, dan bekerja sebagai dry cleaner.

Laporan tersebut tidak menemukan mekanisme yang jelas bagi gelombang menyebabkan tumor otak. Radiasi dari ponsel terlalu lemah untuk menyebabkan kanker dengan memecah DNA, yang menyebabkan para ilmuwan mencari faktor penyebab lain.

"Kami menemukan beberapa benang merah yang memberitahu kita bagaimana kanker dapat terjadi tetapi ada kesenjangan dan ketidakpastian," kata Samet.

Christopher Liar, Direktur IARC, mengatakan bahwa dalam melihat implikasi potensial untuk kesehatan masyarakat, harus ada penelitian lebih lanjut tentang jangka panjang penggunaan  ponsel. "Menunggu ketersediaan informasi tersebut, penting untuk mengambil langkah-langkah pragmatis untuk mengurangi eksposur seperti perangkat hands-free atau SMS," katanya.

#Sumber ~> republika.co.id

Mengidap Insomia? Bisa Jadi Itu Ada Dalam Gen













Satu penelitian baru di Finlandia menunjukkan kekurangan tidur mungkin disebabkan faktor turun-temurun. Tak hanya itu penderita insomnia lebih mungkin untuk meninggal lebih cepat dibandingkan orang dengan pola tidur yang sehat.

Penelitian tersebut adalah yang pertama yang mengaitkan insomnia dengan risiko kematian, demikian laporan media Finlandia, Senin (4/7).

Penelitian tersebut dilakukan oleh Institute of Occupational Health melalui kerja sama dengan University of Helsinski dan Finnish National Institute for Health and Welfare.

Dalam studi, yang dilakukan oleh Institute of Occupational Health melalui kerja sama dengan University of Helsinski dan Finnish National Institute for Health and Welfare, terhadap orang kembar yang berskala luas, para peneliti Finlandia mengikuti status kesehatan 12.500 pasangan kembar dewasa selama 1990 sampai 2009, demikian laporan Xinhua, Selasa (5/7).

Sebanyak 20 persen peserta menderita gejala kurang tidur, termasuk kesulitan untuk mulai tidur, terbangun pada larut malam dan tidur yang tidak mengembalikan stamina tubuh.
Studi itu mendapati orang kembar identik, bila dibanding kembar tak identik, lebih mungkin untuk menderita gejala insomnia yang sama.

Temuan tersebut menunjukkan faktor genetika memainkan peran dalam pembentukan insomnia.
Selain itu, para peserta tersebut dibagi jadi tiga kelompok, menurut kualitas tidur mereka.

Di antara semua peserta, 48 persen adalah orang yang tidur dengan baik, 40 persen tidur rata-rata dan 12 persen orang yang tidur dengan buruk. Hasil penelitian itu memperlihatkan gejala yang berkaitan dengan insomnia mungkin meningkatkan risiko kematian.

Sementara itu dibandingkan dengan orang yang tidur dengan baik, tujuh persen perempuan dan 22 persen lelaki yang tidur rata-rata lebih mungkin untuk meninggal lebih cepat; dan orang tidur dengan buruk 1,5 kali lebih mungkin untuk meninggal lebih cepat.

Menurut para peneliti, kekurangan tidur adalah masalah kesehatan umum di kalangan kelompok usia kerja. Kekurangan tidur kronis meningkatkan risiko banyak kecelakaan dan penyakit, sehingga memperlemah kualitas hidup orang dan kemampuan untuk bekerja secara layak.

Para ahli tersebut menyatakan penderita insomnia mesti berusaha memperoleh perawatan medis tepat pada waktunya, dan pasien insomnia kronis mesti dirawat dengan cara lebih baik dengan terapi tanpa obat.

#Sumber ~> Republika.co.id